
Masa lansia adalah anugerah yang tidak diberikan kepada semua orang. Banyak orang meninggal dunia ketika masih muda, sementara sebagian lainnya diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjalani kehidupan hingga usia lanjut.
Karena itu, usia yang panjang patut disyukuri. Bukan semata-mata karena kita masih dapat menikmati kehidupan, melainkan karena Allah masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, menambah amal saleh, memohon ampun atas kesalahan masa lalu, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Usia yang bertambah seharusnya membuat iman semakin matang, hati semakin lapang, dan kesadaran terhadap akhirat semakin kuat.
Pada umumnya, perjalanan hidup yang panjang memberikan banyak pelajaran. Kita mulai memahami berbagai karakter manusia, menyaksikan perubahan keadaan, merasakan manis dan pahitnya kehidupan, serta menyadari bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi.
Apa yang dahulu terasa sangat penting, seiring berjalannya waktu, mungkin tidak lagi begitu berarti. Harta, jabatan, pujian, dan berbagai kesenangan dunia ternyata tidak dapat memberikan kebahagiaan yang sempurna.
Namun, kenyataannya, tidak semua orang mampu mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya. Ada yang semakin bijaksana ketika menua, tetapi ada pula yang semakin larut dalam kegelisahan, keluhan, dan penyesalan.
Tubuh mulai melemah. Penyakit datang silih berganti. Pendengaran dan penglihatan mungkin tidak lagi sebaik dahulu. Kesempatan untuk melakukan banyak hal juga semakin terbatas.
Dalam keadaan seperti itu, terkadang muncul penyesalan dalam hati:
“Seandainya dahulu aku lebih banyak berbuat baik. Seandainya aku lebih rajin beribadah, lebih banyak membaca Al-Qur’an, lebih menjaga hubungan dengan Allah, dan lebih memanfaatkan waktu untuk amal saleh.”
Penyesalan semacam ini dapat menjadi pelajaran yang berharga apabila mendorong kita memperbaiki diri. Jangan sampai penyesalan justru membuat kita kehilangan semangat untuk beramal, padahal kesempatan itu masih ada.
Sesungguhnya, selama Allah masih memberikan kehidupan, kita masih memiliki kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Contents
- 1 1. Untuk Apa Manusia Diciptakan?
- 2 2. Manusia Membutuhkan Kesehatan Jasmani dan Ketenangan Rohani
- 3 3. Pelajaran dari Masa Muda yang Tidak Kembali
- 4 4. Menjaga Kesehatan Adalah Bentuk Syukur atas Amanah Allah
- 5 5. Belajar Bersyukur atas Nikmat yang Masih Tersisa
- 6 6. Masa Lansia Adalah Kesempatan untuk Memperbaiki Amal
- 7 7. Jangan Biarkan Penyesalan Mengalahkan Harapan
- 8 8. Menyiapkan Bekal Menuju Akhir Kehidupan
- 9 9. Menjadikan Usia sebagai Guru Kehidupan
1. Untuk Apa Manusia Diciptakan?
Di tengah perjalanan hidup, ada satu pertanyaan mendasar yang patut terus kita renungkan: untuk apa sebenarnya manusia diciptakan?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tujuan utama kehidupan bukanlah sekadar mengumpulkan harta, mengejar jabatan, membangun rumah yang megah, atau menikmati berbagai kesenangan dunia.
Semua itu boleh menjadi bagian dari kehidupan, selama diperoleh dan digunakan dengan cara yang diridai Allah. Akan tetapi, semua itu bukan tujuan akhir keberadaan manusia.
Tujuan utama kita adalah beribadah kepada Allah, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya.
Ibadah pun tidak terbatas pada salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan berzikir. Menafkahi keluarga, menjaga amanah, membantu sesama, berkata jujur, serta melakukan pekerjaan yang halal juga dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan agama.
Ketika masih muda, mungkin kita lebih banyak memikirkan bagaimana membangun kehidupan di dunia. Itu merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.
Namun, ketika usia semakin lanjut, sudah sepatutnya perhatian kita semakin seimbang: bagaimana menjalani kehidupan dengan baik sekaligus mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah.
Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat manusia menerima balasan atas amalnya.
Kesadaran ini bukan untuk membuat kita takut menjalani kehidupan, melainkan agar kita tidak kehilangan arah dalam menjalaninya.
2. Manusia Membutuhkan Kesehatan Jasmani dan Ketenangan Rohani
Tubuh manusia membutuhkan makanan, minuman, istirahat, gerak, dan perawatan kesehatan. Akan tetapi, manusia bukan hanya tubuh yang memerlukan pemeliharaan jasmani. Kita juga memiliki hati yang membutuhkan iman, ilmu, zikir, doa, dan kedekatan dengan Allah.
Tidak sedikit orang yang secara materi berkecukupan, tetapi hatinya tetap gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi mampu menjalani kehidupannya dengan penuh ketenangan karena memiliki iman dan rasa syukur.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketenteraman hati memiliki hubungan erat dengan iman dan mengingat Allah.
Bagi seorang muslim yang telah memasuki usia lanjut, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu agama, berdoa, dan memperbaiki kualitas salat merupakan bekal rohani yang sangat berharga.
Jika dahulu kita sibuk bekerja sehingga waktu untuk belajar agama terasa terbatas, sekarang manfaatkan waktu yang tersedia untuk memperdalam pemahaman tentang Islam.
Jika dahulu kita jarang membaca Al-Qur’an, mulailah membiasakan diri, meskipun sedikit demi sedikit.
Jika selama ini ada kekeliruan dalam hubungan dengan sesama manusia, berusahalah memperbaikinya selama masih ada kesempatan.
Tentu saja, ketenangan batin tidak berarti seseorang yang beriman tidak akan pernah merasa sedih, cemas, atau sakit. Semua itu dapat menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun, iman memberikan pegangan agar kita tidak kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan.
Alat Bantu Jalan untuk Lansia
3. Pelajaran dari Masa Muda yang Tidak Kembali
Ketika masih muda, tubuh biasanya lebih kuat, tenaga lebih besar, dan kesempatan untuk melakukan banyak hal lebih luas. Namun, masa muda tidak berlangsung selamanya.
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita untuk memanfaatkan kesempatan sebelum kesempatan itu berlalu.
Beliau bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.”
(HR. Al-Hakim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Hadis ini mengajarkan pentingnya menggunakan kesempatan selagi masih tersedia.
Masa muda adalah kesempatan untuk membangun kebiasaan baik. Kesehatan adalah kesempatan untuk beribadah dengan lebih leluasa. Harta adalah kesempatan untuk menafkahi keluarga dan membantu sesama. Waktu luang adalah kesempatan untuk belajar dan beramal. Kehidupan adalah kesempatan untuk mempersiapkan bekal akhirat.
Ketika usia telah lanjut, sebagian kesempatan itu mungkin tidak lagi dapat kita nikmati seperti dahulu.
Namun, jangan menjadikan keterbatasan tersebut sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik.
Apabila dahulu kita kurang memanfaatkan masa muda, sekarang manfaatkan masa tua. Apabila dahulu kita sering melalaikan waktu, sekarang belajarlah menghargai setiap kesempatan. Apabila dahulu ada kewajiban yang terabaikan, perbaikilah apa yang masih dapat diperbaiki sesuai dengan tuntunan agama.
Masa lalu tidak dapat diulang, tetapi masa sekarang masih dapat digunakan untuk menentukan arah kehidupan kita selanjutnya.
4. Menjaga Kesehatan Adalah Bentuk Syukur atas Amanah Allah
Usia lanjut sering disertai perubahan kondisi tubuh. Tenaga berkurang, persendian terasa kaku, langkah tidak lagi secepat dahulu, dan penyakit tertentu mungkin mulai muncul.
Dalam keadaan seperti ini, kita perlu menerima kenyataan dengan lapang dada, tanpa mengabaikan ikhtiar menjaga kesehatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Al-Bukhari)
Kesehatan dan waktu luang sering baru benar-benar kita hargai ketika keduanya mulai berkurang.
Selagi tubuh masih sehat, kita dapat berjalan, bekerja, belajar, membantu keluarga, dan beribadah dengan lebih leluasa. Ketika kesehatan menurun, banyak kegiatan yang dahulu mudah dilakukan menjadi lebih sulit.
Karena itu, menjaga kesehatan merupakan bagian dari ikhtiar mensyukuri amanah Allah.
Lansia tetap perlu memperhatikan pola makan, mencukupi kebutuhan istirahat, bergerak sesuai kemampuan, menjaga kebersihan, mengelola tekanan pikiran, dan memeriksakan kesehatan apabila diperlukan.
Jangan pula memaksakan diri melakukan kegiatan yang melampaui kemampuan tubuh. Menjaga kesehatan bukan berarti harus memiliki tubuh sekuat ketika muda, melainkan merawat kemampuan yang masih ada dengan bijaksana.
Tujuannya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi juga menjaga kualitas kehidupan agar kesempatan beribadah dan berbuat baik dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Apabila Allah memberikan kesehatan yang baik, syukurilah. Apabila kita sedang sakit, tetaplah berikhtiar dan bersabar. Sakit bukan alasan untuk berputus asa, dan keterbatasan fisik bukan berarti hilangnya seluruh kesempatan untuk beramal.
5. Belajar Bersyukur atas Nikmat yang Masih Tersisa
Salah satu tantangan ketika memasuki usia lanjut adalah kecenderungan membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan ketika masih muda.
Dahulu kita dapat berjalan jauh, sekarang mudah lelah. Dahulu penglihatan terang, sekarang perlu bantuan kacamata. Dahulu mampu bekerja berjam-jam, sekarang perlu lebih banyak istirahat.
Jika terus-menerus memikirkan apa yang telah hilang, hati dapat dipenuhi kesedihan.
Karena itu, marilah belajar mengalihkan perhatian kepada nikmat yang masih Allah berikan.
Mungkin kaki sudah tidak kuat berjalan jauh, tetapi masih dapat digunakan untuk melangkah sesuai kemampuan.
Mungkin mata tidak lagi setajam dahulu, tetapi masih dapat digunakan untuk membaca atau melihat hal-hal yang bermanfaat.
Mungkin tenaga sudah berkurang, tetapi lisan masih dapat digunakan untuk berzikir, berdoa, dan menyampaikan nasihat yang baik.
Mungkin kita tidak lagi mampu bekerja seperti dahulu, tetapi masih dapat membantu keluarga dengan pengalaman, pemikiran, dan keteladanan.
Bahkan ketika tubuh semakin lemah, kesempatan untuk berdoa, bertobat, mengingat Allah, dan memperbaiki niat tetap merupakan karunia yang sangat berharga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur tidak berarti kita harus menyangkal rasa sakit atau berpura-pura bahwa semua keadaan selalu menyenangkan. Syukur berarti mengakui nikmat Allah, menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan, dan tidak membiarkan kekurangan menutupi seluruh kebaikan yang masih kita miliki.
Orang yang bersyukur bukanlah orang yang tidak pernah mengeluh atau bersedih, melainkan orang yang berusaha kembali mengingat nikmat Allah di tengah keterbatasannya.
Dengan demikian, usia lanjut dapat menjadi masa untuk melatih hati agar lebih menerima, lebih sabar, dan lebih menghargai hal-hal sederhana yang dahulu mungkin terlewatkan.

Hong Kong Pain Ease Oil
Membantu meredakan nyeri sendi, pegal linu, keseleo ringan, rematik dan membantu melemaskan otot.
LIHAT PRODUK

Minyak Gosok Herbal
Membantu melancarkan peredaran darah, meredakan nyeri lutut, sakit pinggang, rematik dan nyeri sendi.
LIHAT PRODUK

Minyak Mbah Marto Solo
Membantu meredakan nyeri otot, pegal linu, asam urat, rematik, nyeri sendi dan saraf kejepit.
LIHAT PRODUK

Minyak Urut Dayak Asli
Minyak herbal tradisional Kalimantan untuk membantu meredakan pegal, nyeri otot, dan ketidaknyamanan sendi.
LIHAT PRODUK
6. Masa Lansia Adalah Kesempatan untuk Memperbaiki Amal
Bagi seorang mukmin, usia lanjut bukan berarti seluruh kesempatan telah berakhir.
Justru ketika semakin menyadari bahwa waktu hidup terbatas, kita perlu lebih bersungguh-sungguh menggunakan sisa umur untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
Artinya:
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini memberikan pelajaran penting: panjang umur merupakan kesempatan yang berharga apabila disertai amal yang baik.
Umur panjang dengan sendirinya bukan jaminan kemuliaan seseorang. Yang perlu kita usahakan adalah menjadikan pertambahan usia sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas iman dan amal saleh.
Jika dahulu kita telah banyak berbuat baik, bersyukurlah dan berusahalah mempertahankannya.
Jika dahulu kita masih memiliki kekurangan, jangan berputus asa. Akui kesalahan, mohon ampun kepada Allah, dan berusahalah memperbaiki diri.
Jika ada hak orang lain yang belum kita tunaikan, berusahalah menyelesaikannya. Jika ada hubungan yang retak karena kesalahan kita, carilah jalan untuk memperbaikinya selama memungkinkan.
Perbanyaklah amal sesuai kemampuan: menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, menuntut ilmu, membantu sesama, bersedekah, menyambung silaturahmi, dan mendidik keluarga dengan nasihat yang baik.
Jangan menganggap suatu amal tidak berharga hanya karena terlihat kecil. Amal yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan agama tetap memiliki nilai di sisi Allah.
Bagi lansia yang tidak lagi mampu beribadah dengan cara seperti dahulu, Islam memberikan kemudahan sesuai ketentuan syariat. Lakukan ibadah berdasarkan kemampuan, tanpa memaksakan diri melampaui batas.
Yang terpenting bukanlah membandingkan kemampuan kita sekarang dengan kemampuan orang lain, melainkan berusaha menjalankan ketaatan dengan sungguh-sungguh dalam keadaan yang Allah berikan.
7. Jangan Biarkan Penyesalan Mengalahkan Harapan
Semakin bertambah usia, semakin banyak pula kenangan yang tersimpan. Ada kenangan yang membahagiakan, tetapi ada juga yang menghadirkan penyesalan.
Mungkin dahulu kita pernah menyakiti hati orang lain. Mungkin ada amanah yang belum ditunaikan dengan baik. Mungkin ada waktu yang terbuang untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Bahkan mungkin ada kewajiban agama yang dahulu sering kita lalaikan.
Semua itu patut menjadi bahan introspeksi. Namun, jangan sampai kita merasa bahwa kesalahan masa lalu sudah terlalu banyak sehingga tidak ada gunanya lagi memperbaiki diri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini memberikan harapan yang besar kepada orang-orang yang ingin kembali kepada Allah.
Sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Ia harus bertobat dengan sungguh-sungguh, menyesali kesalahan, meninggalkan dosa, dan bertekad tidak mengulanginya.
Apabila kesalahan berkaitan dengan hak manusia, hendaknya ia berusaha mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf dengan cara yang baik.
Kita tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Akan tetapi, kita dapat mengambil pelajaran darinya dan memperbaiki langkah yang masih tersedia.
Karena itu, jangan habiskan masa tua hanya dengan meratapi masa lalu. Jadikan penyesalan sebagai pintu untuk kembali, bukan sebagai alasan untuk menyerah.
Selama kehidupan masih diberikan, masih ada kesempatan untuk memperbanyak istigfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meningkatkan amal saleh.
Salah satu pelajaran terbesar dari usia lanjut adalah kesadaran bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya.
Ketika masih muda, kematian terkadang terasa jauh. Kita sibuk membangun rencana, mengejar cita-cita, mengumpulkan harta, dan memikirkan berbagai keperluan masa depan.
Namun, semakin bertambah usia, kita semakin memahami bahwa tidak semua rencana akan terlaksana dan tidak semua keinginan dapat kita bawa sampai akhir kehidupan.
Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih bijaksana dalam menggunakan waktu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Artinya:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.”
(QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah dan ketaatan tidak berhenti karena seseorang telah mencapai usia tertentu. Selama hidup, seorang muslim tetap dituntut untuk beribadah kepada Allah sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.
Karena itu, mempersiapkan akhir kehidupan bukan berarti berhenti menjalani kehidupan dunia. Kita tetap boleh merawat keluarga, menikmati hal-hal yang halal, menjaga kesehatan, dan melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Namun, semua itu hendaknya dijalani dengan kesadaran bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan yang memiliki batas.
Bekal menuju akhirat bukan semata-mata banyaknya harta yang kita tinggalkan, melainkan iman, ketakwaan, amal saleh, dan rahmat Allah yang kita harapkan.
Kita perlu terus memperbaiki salat, menjaga kejujuran, menunaikan amanah, memperhatikan hak keluarga, menghindari kezaliman, dan memperbanyak kebaikan.
Jangan menunggu sampai tubuh benar-benar lemah untuk mulai mendekat kepada Allah. Jangan menunggu sakit untuk belajar menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari pentingnya berbuat baik kepadanya.
Selagi kesempatan masih ada, lakukanlah kebaikan yang mampu kita lakukan hari ini.
9. Menjadikan Usia sebagai Guru Kehidupan
Pada akhirnya, usia yang panjang akan mengajarkan banyak hal kepada manusia.
Kita belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus dimiliki. Tidak semua yang hilang harus terus diratapi. Tidak semua persoalan harus dihadapi dengan kemarahan. Dan tidak semua keberhasilan dunia menjamin ketenangan hati.
Kita juga belajar bahwa kesehatan adalah nikmat, keluarga adalah amanah, waktu adalah kesempatan, dan kehidupan adalah perjalanan yang kelak akan berakhir.
Semakin bertambah usia, seharusnya semakin besar pula keinginan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk mulai berbuat baik. Kita hanya perlu terus berusaha memperbaiki diri, hari demi hari, sesuai kemampuan yang Allah berikan.
Apabila masih dapat berjalan, gunakan langkah untuk kebaikan. Apabila masih dapat berbicara, gunakan lisan untuk mengucapkan yang baik. Apabila masih dapat membaca, manfaatkan untuk menambah ilmu. Apabila tubuh semakin terbatas, jangan lupakan kekuatan doa, zikir, niat yang ikhlas, dan kesungguhan hati.
Jangan pula merasa bahwa pengalaman hidup yang panjang hanya menjadi milik diri sendiri. Selama disampaikan dengan bijaksana, pengalaman tersebut dapat menjadi nasihat bagi anak, cucu, dan generasi berikutnya.
Dengan demikian, masa lansia bukan hanya kesempatan untuk memperbaiki diri, melainkan juga kesempatan untuk meninggalkan teladan yang baik.
Penutup: Semoga Sisa Umur Menjadi Amal yang Berkah
Saudaraku, usia yang menua bukanlah alasan untuk kehilangan harapan. Justru ketika perjalanan hidup semakin jauh, kita memiliki kesempatan untuk memahami makna kehidupan dengan lebih mendalam.
Jika dahulu kita terlalu sibuk mengejar dunia, sekarang seimbangkanlah perhatian antara kebutuhan dunia dan persiapan akhirat.
Jika dahulu ada waktu yang terbuang, gunakanlah waktu yang tersisa untuk beramal.
Jika dahulu ada kesalahan, bertobatlah dan perbaikilah apa yang masih dapat diperbaiki.
Jika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, bersyukurlah atas kemampuan yang masih tersisa dan rawatlah dengan sebaik-baiknya.
Jangan hanya menghitung berapa tahun kita telah hidup. Renungkan pula apa yang telah kita lakukan selama tahun-tahun tersebut dan kebaikan apa yang masih dapat kita kerjakan.
Sebab, yang terpenting bukan sekadar panjangnya usia, melainkan bagaimana kita mengisi usia itu dengan iman, syukur, ketaatan, dan amal saleh.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi usia kita, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, memberikan keteguhan iman hingga akhir hayat, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ
Artinya:
“Ya Allah, perbaikilah kesudahan kami dalam segala urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.




