
Contents
- 1 Pendahuluan
- 2 1. Memahami Bahwa Kesepian Bukan Berarti Tidak Memiliki Siapa-Siapa
- 3 2. Jangan Menunggu Selalu Dikunjungi, Mulailah Menjalin Silaturahmi
- 4 3. Tetap Merasa Dibutuhkan oleh Keluarga
- 5 4. Mengisi Waktu dengan Kegiatan yang Bermanfaat
- 6 5. Mendekatkan Diri kepada Allah agar Hati Lebih Tenang
- 7 6. Tetap Menjaga Kesehatan Tubuh dan Pikiran
- 8 7. Jangan Menutup Diri, Tetap Berikan Kasih Sayang kepada Orang Lain
- 9 8. Menyadari Bahwa Usia Senja Tetap Mempunyai Makna
- 10 Penutup: Jangan Biarkan Kesepian Menghilangkan Harapan
Pendahuluan
Ketika memasuki usia senja, sering timbul rasa sepi, bagaimana mengatasi kesepian di usia senja itu ketika rasa itu datang menghampiri dan banyak lagi perubahan dalam kehidupannya. Anak-anak mungkin sudah berkeluarga dan tinggal berjauhan. Teman-teman sebaya semakin jarang ditemui. Aktivitas yang dahulu begitu padat perlahan berkurang. Bahkan, ada yang harus kehilangan pasangan hidup setelah puluhan tahun membina rumah tangga.
Keadaan seperti ini terkadang menimbulkan perasaan sepi.
Ada orang lanjut usia yang merasa tidak lagi diperhatikan. Ada yang merasa tidak mempunyai teman untuk berbicara. Ada pula yang tinggal bersama keluarga, tetapi tetap merasakan kesepian karena jarang diajak berbincang atau dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesepian bukanlah sesuatu yang harus dianggap sebagai hal biasa dan dibiarkan begitu saja. Perasaan ini perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kebahagiaan, semangat, dan kesehatan seseorang.
Namun, ada satu hal yang perlu kita ingat: bertambahnya usia bukan berarti berakhirnya kesempatan untuk menikmati kehidupan.
Masa tua tetap dapat dijalani dengan penuh kebahagiaan, persahabatan, kedekatan dengan keluarga, dan ketenangan bersama Allah.
Lantas, bagaimana cara mengatasi kesepian di usia senja?
1. Memahami Bahwa Kesepian Bukan Berarti Tidak Memiliki Siapa-Siapa
Kesepian tidak selalu berarti seseorang hidup sendirian.
Ada orang yang tinggal di rumah bersama anak, menantu, dan cucu, tetapi jarang mendapatkan kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati.
Sebaliknya, ada orang yang tinggal sendiri, tetapi tetap merasa bahagia karena mempunyai sahabat, kegiatan yang bermanfaat, dan hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kesepian bukan hanya persoalan banyak atau sedikitnya orang di sekitar kita. Yang juga penting adalah adanya hubungan yang hangat, perhatian, dan rasa dihargai.
Akui perasaan itu, kemudian mulailah mencari jalan untuk membangun kembali hubungan yang baik.
Ketika masih muda, mungkin kita terbiasa dikunjungi teman, saudara, atau tetangga. Namun, ketika usia bertambah, keadaan bisa berubah.
Anak-anak mempunyai kesibukan masing-masing. Teman-teman mungkin tinggal berjauhan. Tidak semua orang dapat datang sesering dahulu.
Daripada terus menunggu, cobalah mengambil inisiatif sederhana.
- Menelepon anak atau saudara untuk menanyakan kabar.
- Menghubungi teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
- Menyapa tetangga ketika ada kesempatan.
- Mengunjungi saudara jika kondisi tubuh memungkinkan.
- Mengikuti kegiatan keagamaan atau pertemuan masyarakat.
Tidak perlu menunggu percakapan panjang. Sapaan sederhana dan perhatian kecil dapat membuka kembali hubungan yang selama ini renggang.
Silaturahmi bukan hanya mendatangkan kegembiraan, tetapi juga merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya:
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, menjaga hubungan dengan keluarga dan kerabat bukan sekadar cara mengatasi kesepian. Silaturahmi juga merupakan bagian dari kebaikan yang diperintahkan agama.
3. Tetap Merasa Dibutuhkan oleh Keluarga
Salah satu hal yang dapat membuat orang lanjut usia merasa kesepian adalah perasaan tidak lagi dibutuhkan.
Dahulu, mereka mengurus rumah tangga, membesarkan anak, bekerja, dan mengambil berbagai keputusan keluarga. Kini, sebagian tanggung jawab tersebut sudah berpindah kepada generasi berikutnya.
Perubahan ini terkadang membuat seseorang merasa kehilangan peran.
Padahal, orang tua tetap mempunyai sesuatu yang sangat berharga untuk diberikan kepada keluarga.
Pengalaman hidup, nasihat, kasih sayang, doa, dan keteladanan merupakan warisan yang tidak dapat dinilai dengan uang.
Orang tua juga dapat melakukan kegiatan sederhana bersama keluarga, seperti:
- Mendengarkan cerita anak dan cucu.
- Membacakan kisah-kisah penuh hikmah kepada cucu.
- Berbagi pengalaman hidup.
- Membantu pekerjaan ringan sesuai kemampuan.
- Mendoakan kebaikan bagi seluruh anggota keluarga.
Namun, perlu diingat bahwa orang tua juga tidak harus memaksakan diri untuk selalu membantu. Kesehatan dan kemampuan tubuh perlu diperhatikan.
Yang terpenting bukan seberapa banyak pekerjaan yang dapat dilakukan, melainkan tetap terpeliharanya hubungan kasih sayang dan rasa saling menghargai.
4. Mengisi Waktu dengan Kegiatan yang Bermanfaat
Waktu luang yang terlalu banyak tanpa kegiatan terkadang membuat seseorang terus memikirkan kesedihan dan kesendiriannya.
Karena itu, usahakan mempunyai kegiatan rutin yang menyenangkan dan sesuai kemampuan.
Tidak perlu melakukan pekerjaan berat. Kegiatan sederhana pun dapat memberikan kegembiraan.
Beberapa kegiatan yang dapat dicoba antara lain:
- Membaca Al-Qur’an dan mempelajari maknanya.
- Membaca buku atau artikel yang bermanfaat.
- Merawat tanaman di halaman rumah.
- Menulis pengalaman hidup dan nasihat untuk keluarga.
- Mendengarkan kajian agama.
- Melakukan gerakan ringan sesuai kemampuan.
- Menekuni hobi yang dahulu belum sempat dilakukan.
Bagi yang terbiasa menggunakan telepon pintar atau komputer, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk menjaga hubungan dengan keluarga dan sahabat.
Misalnya, melakukan panggilan video, mengikuti kajian daring, atau belajar hal-hal baru.
Jangan menganggap bahwa belajar hanya pantas dilakukan ketika masih muda. Selama pikiran dan kemampuan masih memungkinkan, selalu ada kesempatan untuk menambah pengetahuan.
5. Mendekatkan Diri kepada Allah agar Hati Lebih Tenang
Ada kesepian yang tidak selalu dapat dihilangkan hanya dengan kehadiran manusia.
Terkadang, seseorang sudah dikelilingi keluarga, tetapi masih merasakan kehampaan dalam hati.
Pada saat seperti itu, kedekatan kepada Allah menjadi sumber kekuatan yang sangat penting.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ketenteraman hati tidak semata-mata bergantung pada keadaan di sekitar.
Perbanyaklah berdzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, melaksanakan salat, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Ketika tidak ada orang yang dapat diajak berbicara, kita tetap dapat mengadu kepada Allah melalui doa.
Ceritakan segala kegelisahan, kesedihan, dan harapan kepada-Nya.
Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati hamba-Nya.
6. Tetap Menjaga Kesehatan Tubuh dan Pikiran
Kesehatan fisik dan keadaan emosional saling berkaitan.
Ketika tubuh sering sakit, sulit bergerak, atau mudah lelah, kesempatan untuk bertemu orang lain juga dapat berkurang. Akibatnya, perasaan kesepian bisa semakin kuat.
Oleh sebab itu, menjaga kesehatan tetap penting pada usia lanjut.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan:
- Makan dengan gizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh.
- Minum air putih yang cukup, kecuali ada pembatasan dari dokter.
- Tidur dan beristirahat dengan teratur.
- Melakukan aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan.
- Mendapatkan sinar matahari pagi secukupnya.
- Memeriksakan kesehatan secara berkala.
Jika lutut terasa sakit atau kemampuan berjalan sudah berkurang, jangan memaksakan diri. Pilih aktivitas yang aman dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Perhatikan pula perubahan suasana hati.
Jika kesedihan berlangsung terus-menerus, kehilangan minat terhadap kegiatan yang dahulu disukai, gangguan tidur, atau merasa hidup tidak lagi berarti, jangan menganggapnya sekadar akibat usia tua.
Bicarakan dengan keluarga dan mintalah bantuan tenaga kesehatan. Kesepian yang berat dapat berjalan bersama masalah kesehatan mental seperti depresi, dan keadaan tersebut perlu mendapatkan perhatian.
Kadang-kadang, orang yang kesepian justru semakin menarik diri dari lingkungan.
Tidak mau menerima kunjungan, enggan berbicara, atau merasa tidak ada gunanya menjalin hubungan baru.
Padahal, hubungan sosial dapat tumbuh kembali apabila kita bersedia membuka diri.
Mulailah dari hal-hal kecil.
Tersenyumlah ketika bertemu tetangga. Berikan perhatian kepada orang lain. Dengarkan cerita teman. Doakan saudara yang sedang mengalami kesulitan.
Kita tidak harus selalu menjadi orang yang diperhatikan. Sesekali, jadilah orang yang memperhatikan.
Ketika kita memberikan kasih sayang, perhatian, dan manfaat kepada orang lain, kehidupan pun terasa lebih bermakna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Artinya:
“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. At-Taubah: 71)
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak seharusnya terlepas dari kepedulian terhadap sesama.
8. Menyadari Bahwa Usia Senja Tetap Mempunyai Makna
Jangan mengukur nilai kehidupan hanya berdasarkan pekerjaan, penghasilan, kekuatan tubuh, atau banyaknya orang yang datang berkunjung.
Ada banyak kebaikan yang masih dapat dilakukan pada usia lanjut.
Mendoakan anak dan cucu, memberi nasihat yang baik, mengajarkan Al-Qur’an, membantu tetangga, bersedekah sesuai kemampuan, dan memperbanyak ibadah merupakan kegiatan yang bernilai.
Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, pintu kebaikan tetap terbuka.
Boleh jadi, seseorang tidak lagi mampu melakukan pekerjaan seperti dahulu. Namun, ia masih dapat memperbanyak doa, dzikir, ilmu, dan amal saleh.
Usia senja bukan masa untuk merasa tidak berguna.
Justru pada masa inilah kita dapat lebih banyak merenungkan perjalanan hidup, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Penutup: Jangan Biarkan Kesepian Menghilangkan Harapan
Kesepian di usia senja memang dapat menjadi pengalaman yang berat. Kehilangan pasangan, berjauhan dengan anak-anak, berkurangnya teman, dan keterbatasan fisik dapat membuat seseorang merasa sendiri.
Namun, jangan biarkan keadaan tersebut memadamkan semangat hidup.
Bangunlah kembali hubungan dengan keluarga dan sahabat. Isi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Jagalah kesehatan. Tetaplah membuka diri terhadap lingkungan. Dan yang paling penting, jangan pernah menjauh dari Allah.
Kita mungkin tidak dapat mengembalikan masa muda, tetapi kita masih dapat menjadikan hari-hari yang tersisa sebagai hari-hari yang penuh kebaikan.
Ingatlah, nilai seorang manusia tidak berkurang hanya karena usianya bertambah.
Orang tua tetap membutuhkan kasih sayang, perhatian, persahabatan, dan penghargaan. Mereka juga masih mempunyai kesempatan untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Usia boleh bertambah, tetapi harapan, iman, dan semangat untuk berbuat baik jangan sampai padam.
Doa
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا مُطْمَئِنًّا، وَنَفْسًا رَاضِيَةً، وَعَيْشًا طَيِّبًا، وَصُحْبَةً صَالِحَةً
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati yang tenteram, jiwa yang ridha, kehidupan yang baik, dan persahabatan dengan orang-orang yang saleh.”
Ya Allah, jangan biarkan kami larut dalam kesedihan dan kesepian. Dekatkanlah kami kepada keluarga dan orang-orang yang baik. Jadikanlah usia kami yang tersisa sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Karuniakanlah kepada kami ketenteraman hati, kesehatan, kasih sayang, dan husnul khatimah.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Pesan Lansia70.com
Sehat, Bahagia, Berkah di Usia Lanjut.
Jangan merasa sendiri. Tetaplah menjalin silaturahmi, menjaga iman, dan mengisi hari-hari dengan kebaikan.
